Ibnu Khaldun (1332 – 1400)


Ada kecenderungan untuk menganggap sosiologi sebagai fenomena yang relatif modern, semata-mata sebagai fenomena Barat. Sebenarnya para sarjana telah sejak lama melakukan studi sosiologi dan ada yang berasal dari kawasan lain. Contohnya adalah Abdul Rahman Ibnu Khaldun.

Ibnu Khaldun lahir di Tunisia, Afrika Utara, 27 Mei 1332 (Faghirzaedah 1982). Lahir dari keluarga terpelajar, Ibnu Khaldun dimasukkan ke sekolah Al-Quran, kemudian mempelajari matematika dan sejarah. Semasa hidupnya ia membantu berbagai sultan di Tunisia, Maroko, Spanyol, dan Aljazair sebagai data besar, bendaharawan dan anggota dengan dewan penasehat sultan.

Ibnu KhaldunIa pun pernah dipenjarakan selama 2 tahun di Maroko karena keyakinannya bahwa penguasa negara bukanlah pemimpin yang mendapatkan kekuasaan dari Tuhan. Setelah kurang lebih dua dekade aktif di bidang politik, Ibnu Khaldun kembali ke Afrika Utara. Di situ ia melakukan studi dan menulis secara intensif selama 5 tahun. Karya yang dihasilkan selama 5 tahun itu meningkatkan kemasyhurannya dan menyebabkan ia diangkat menjadi guru di pusat studi Islam Universitas Al-Azhar di Kairo. Dalam mengajarkan tentang masyarakat dan sosiologi, Ibnu Khaldun menekankan pentingnya menghubungkan pemikiran sosiologi dan observasi sejarah. Menjelang kematiannya tahun 1400, Ibnu Khaldun telah menghasilkan sekumpulan karya yang mengandung berbagai pemikiran yang mirip dengan sosiologi zaman sekarang.

Ia melakukan studi ilmiah tentang masyarakat, riset empiris, dan meneliti sebab-sebab fenomena sosial. Ia memusatkan perhatian pada berbagai lembaga sosial (misalnya lembaga politik dan ekonomi) dan hubungan antara lembaga sosial itu. Ia juga tertarik untuk melakukan studi perbandingan antara masyarakat primitif dan masyarakat modern. Ibnu Khaldun tak berpengaruh secara dramatis terhadap sosiologi klasik, tetapi setelah sarjana pada umumnya dan sarjana muslim khususnya meneliti ulang karyanya, ia mulai diakui sebagai sejarawan yang mempunyai signifikansi historis.

Sumber : http://doktorpaisal.wordpress.com/2009/11/23/biografi-ibnu-khaldun/

/

About Prista Ayu
Mahasiswa yang baru belajar nGeblog, Ngeblog untuk sekedar sharing ilmu, pengalaman, dokumentasi hidup, dan mencari teman. Boleh hanya numpang lewat tapi kalau mau komentar akan saya beri ucapkan terima kasih plus backlink gratis karena Blog ini sudah Dofollow -:). Boleh ngasih saran, kritik, caci maki tapi kalau nyepam tak masukin penjara Akismet he he he he ….

2 Responses to Ibnu Khaldun (1332 – 1400)

  1. mr. x says:

    i hope you got to do better…………
    good luck..

  2. Bang Uddin says:

    Teori Masyarakat Ibnu Khaldun Jadi Referensi Barat

    IBNU Khaldun (1332-1406) adalah cendekiawan Islam yang banyak berkontribusi dalam berbagai bidang ilmu kemanusiaan antaranya filsafat, sains politik, sejarah dan sosiologi.
    Berasal dari Tunisia, beliau pernah bertugas sebagai hakim atau kadi ke mazhab Maliki di Afrika Utara. Beliau juga negarawan yang arif dalam hal ihwal negara hasil pengalamannya melayani beberapa generasi pemerintah Muslim di sana.

    Antara karya penulisan beliau yang terkenal adalah Muqaddimah, buku muka untuk Kitab Al-‘ibar mengulas teori peradaban yang kini menjadi referensi ilmuwan Islam dan peneliti Barat.
    Antara pemikiran Ibnu Khaldun adalah teori kemasyarakatan. Menurutnya, sebelum mengkaji lebih mendalam sesuatu masyarakat, kita harus memahami manusia dan perbedaannya dari makhluk lain. Manusia terangkat martabatnya dibandingkan makhluk sekeliling karena bisa berpikir dan menimba berbagai ilmu sains dan ilmu seni. Kedua, manusia memiliki kemampuan memerintah yang memberi peluang untuk menyediakan perlindungan serta mempertahankan keamanan diri.
    Ketiga, manusia dapat bekerjasama melalui berbagai bentuk dan cara dalam menjalani kehidupan seperti kerjasama dalam institusi kekeluargaan, anak berusaha membantu orang tua.
    Selanjutnya ia berkembang pada kerjasama antara kaum yang akhirnya mewujudkan fitur keempat pada manusia yang disebut oleh Ibnu Khaldun sebagai peradaban. Manusia membutuhkan peradaban untuk memenuhi kebutuhan mereka.
    Ini termasuk tempat tinggal yang nyaman di kota dan teman untuk menemani hidup agar tidak kesunyian. Semua fitur ini membedakan manusia dengan makhluk lain menurut pengamatan Ibnu Khaldun. Setelah memahami manusia, baru kita beralih ke penelitian mengenai bagaimana individu dapat membangun jati diri serta mempelajari budaya melalui pergaulan dan pengalaman hidup dalam masyarakat.
    Individu tidak bisa hidup dengan mengisolasi diri dari masyarakat. Ibnu Khaldun menceritakan tentang seorang anak yang dikurung bersama bapaknya sejak ia lahir.
    Meskipun memiliki pengetahuan tentang dunia luar melalui penceritaan bapaknya, anak itu masih tidak mampu membayangkan dan berimajinasi apa yang diceritakan itu. Pengasingan dengan dunia luar membuat anak itu tidak pengalaman bertemu dan hidup dalam masyarakat sehingga menghambat daya pikirannya. Jadi, hidup bermasyarakat adalah penting.
    Menurut Ibnu Khaldun, beberapa faktor perlu ada untuk membantu individu dalam proses mengumpulkan pengetahuan mengenai masyarakat dan pertama adalah ilmu.
    Ilmu adalah ramuan paling dasar untuk perkembangan pikiran manusia, terutama mengenai alam. Manusia awalnya jahil dan memiliki pikiran yang kosong ataupun disebut tabula rasa menurut Ibnu Khaldun.
    Kemudian, hasil usaha menimba ilmu pengetahuan, seseorang menjadi insan lebih sempurna akal pikirannya dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Ilmu pengetahuan dimantapkan dengan faktor kedua yaitu nilai murni keagamaan yang mewujudkan pembangunan jati diri yang baik.
    Pembangunan insan berlandaskan agama ini perlu diterapkan ke dalam kepribadian setiap individu. Proses ini dapat dilaksanakan oleh agen ketiga lembaga keluarga.
    Kasih sayang yang diberikan orangtua sangat diperlukan untuk mewujudkan individu yang normal dan dapat berkontribusi kepada masyarakat. Pandangan ini sesuai dengan hadits Nabi SAW yang artinya:

    “Setiap bayi yang lahir itu dilahirkan seperti kain putih, terserah kepada orangtua untuk menjadikan dia Yahudi atau Nasrani ataupun Majusi.”

    Keluarga memainkan peran utama membentuk sahsiah dan akhlak individu agar selalu baik dan berada dalam landasan agama. Guru dan kaum tua juga agen yang membantu menerapkan nilai murni kepada individu.
    Golongan tua terlebih dulu makan garam mengemudi kaum muda berdasarkan pengalaman hidup yang sudah mereka tempuh. Sementara guru pula mampu mengajarkan berbagai ilmu kepada murid.
    Menurut Ibnu Khaldun, ilmu yang diajarkan harus secara bertahap. Sedikit demi sedikit ilmu diterapkan pada siswa sesuai kemampuan mereka. Jangan terus memberi pertanyaan yang susah atas alasan agar mereka dapat menimba pengalaman dari menjawab pertanyaan itu.
    Pertanyaan yang sulit ini harus disimpan untuk dijawab pada akhir proses pembelajaran. Guru yang melakukan kesalahan ini sebenarnya menambahkan kekeliruan siswa kepada pelajaran.
    Bagi Ibnu Khaldun ini adalah teknik pengajaran yang lemah dan tidak efektif. Beliau juga menekankan elak dari menjalankan proses pendidikan formal berbasis penghafalan karena menghafal berakibat mudah lupa.
    Faktor berikutnya adalah penguasaan bahasa sebagai medium dasar untuk berkomunikasi dengan masyarakat termasuk kemampuan berbahasa pasar karena dapat mempermudah bersosialisasi dan merapatkan lagi hubungan dengan anggota masyarakat.
    Penulisan ini penting karena bahasa sesuatu yang simbolis. Penulisan dapat membantu seseorang mengungkapkan apa yang terbetik di benak dan pikiran mereka.
    Agen sosialisasi yang terakhir adalah musik. Menurut Ibnu Khaldun, musik dapat mempererat hubungan sesama manusia melalui emosi yang dilahirkan ketika mendengarnya terutama musik berentak harmonis.
    Ia membantu menceriakan suasana dan meringankan tekanan. Musik bercorak puisi indah, berirama rancak dan bertenaga pula menaikkan semangat tentara yang berjuang di medan peperangan. Ini membantu mereka terus cekal melindungi keamanan masyarakat sehingga berhasil mengatasi dan mengalahkan musuh dan pulang ke pangkuan keluarga dicintai.
    Ibnu Khaldun banyak menyumbang ilmu filsafat apakah politik, sosiologi dan sejarah, meskipun berbagai kritik dilemparkan karena teorinya yang dianggap agak sekuler, jika diamati, pikiran beliau lebih maju dari era zamannya sendiri.
    Setelah lebih enam abad berlalu, filsafat beliau masih dapat diterapkan dan banyak menyumbang kepada pembangunan peradaban apakah Islam mau Barat.
    Hingga kini, hasil nukilan beliau masih menjadi sumber referensi utama bagi universitas di seluruh dunia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: