Bebaskan Alam dari Bencana


Teduhkan bumiku yang kian memanas, Segarkan udaraku yang makin kotor berdebu, Hijaukan hutanku yang semakin tak berpohon, Alirkan sungaiku yang semakin tak berair, Tuhan pun berbisik, seraya menjawab: “Damaikan hatimu, bumimu pun kan lestari” (Sang Mujtahid Lingkungan)

Kata-kata doa Sang Mujtahid Lingkungan di atas, mengingatkan kita pada kenyataan yang terjadi di negeri ini. Berbicara isu lingkungan selalu menjadi perbincangan yang serius, baik ditataran nasional maupun Internasional. Namun, dibalik semua itu terkadang perkataan berbeda dengan kenyataan.

Sederhananya, saat bencana datang semua orang ikut bicara mulai dari kalangan eksekutif, legislatif, bahkan masyarakat. Setelah bencana usai isu lingkungan pun tak muncul lagi di permukaan. Saat para korban letusan gunung berapi selesai diefakuasi, selesailah pula isu lingkungan dari bencana. Padahal seharusnya tidak seperti itu, selama situasi dan kondisi mental para korban belum bisa tersenyum, kita masih punya beban moral pada mereka.

Bencana Merapi

Sudah cukup banyak bencana yang menimpa Indonesia saat ini mulai: gempa dan tsunami di Mentawai hari rabu (27/10), letusan Gunung Merapi selasa (26/10), meningkatnya aktivitas Gunung Papandayan (27/10), jebolnya Tanggul Sungai Cikunir di Tasikmalaya (27/10), lahar Gunung Galunggung yang rusak. Semua itu hanya sekelumit bencana yang disebabkan oleh alam atau bisa jadi bencana yang dibuat manusia untuk merusak alam. Paling tidak, dari kejadian itu semua bisa mengambil hikmah dan peringatan kepada kita, bagaimana seharusnya kita berbuat pada alam dan lingkungan sekitar kita?.

Peduli Alam

Ada seorang ibu membuang bungkus permen ke sungai, tiba-tiba anaknya yang berusia sepuluh tahun berkata “Bu jangan buang sampah sembarangan itu bisa menyebabkan banjir“, mungkin bagi si Ibu itu hal sepele. Tapi di balik semua itu, kita tidak tahu berapa puluh juta orang yang bersamaan membuang bungkus permen pada waktu itu.

Kalau semua orang membuang bungkus permen ke sungai, tidak menutup kemungkinan aliran air pun akan tersumbat sehingga akhirnya menyebabkan banjir. Dengan demikian Fungsi manusia sejatinya memiliki peran ekologis yang sangat penting untuk keberlangsungan alam raya ini. Dari itu, semua orang berpotensi melestarikan lingkungan dan alam sekitarnya. Namun, tidak menutup kemungkinan manusia juga sebagai perusak lingkungan (mudah-mudahan tidak terjadi).

Oleh karena itu, lemah dan rendahnya kesadaran lingkungan mesti jadi tanggung jawab kita bersama sebagai mahluk sosial dan penikmat lingkungan. Kita butuh kepada lingkungan begitu juga sebaliknya lingkungan butuh kepada kita, ada beberapa kesadaran menurut Prof.DR.Mujiono Abdillah, MA. Dalam bukunya fikih lingkungan ada beberapa criteria yang mesti tertanam pada setap jiwa manusia.

Pertama kesadaran ilmiah, Penulis pikir kesadaran seperti ini perlu dimiliki oleh semua khalayak. Contoh kecil ketika peristiwa Gunung Merapi meletus, ada beberapa masyarakat yang memutuskan tinggal bersama Mbah Marijan padahal, padahal secara prosedur sudah diberitahukan mengenai status gunung berapi. Ketika sebagian orang tidak mau mengungsi, bisa jadi mereka sudah melekat pada budaya mistik yang lebih tinggal ditempat sendiri daripada harus menuruti seruan para ahli Vulkanologi dan ilmu bumi lainya.

Ada kemungkinan lain, kenapa tidak mau mengungsi jangan-jangan tempatnya tidak seseuai dengan harapan yang mereka inginkan. kalaupun ada tempat itu hanya cukup untuk berteduh. Kesadaran pada ilmu pengetahuan serta mempercayainya merupakan antisipasi untuk datangnya bencana pada alam dan lingkungan tempat kita tinggal.

Kesadaran ilmiah ini selain dirumuskan oleh orang-orang yang ahli dibidangnya seperti ilmu ekologi, geologi, geografi , dan ilmu bumi yang lainnya. Paling tidak menambah kesadaran yang kuat untuk tetap semangat di bidangnya masing-masing guna memelihara kelangsungan alam dan lingkungan kita.

Kesadaran Kritis

Kedua kesadaran sosial, disadari atau tidak kita hidup saling ketergantungan dengan orang lain. Ciri bahwa kita makhluk sosial dapat terlihat manakala saudara-saudara kita terkena musibah, kita pun ikut sedih karena perasaan kita sudah bisa merasakan apa yang orang lain rasakan. Seperti, bencana Gunung Merapi, longsor, banjir, dan bencana lain yang menyisakan duka yang mendalam.

Dengan adanya kesadaran sosial pada diri kita masing-masing, seperti memelihara lingkungan dari hal yang terkecil bersama-sama, membudayakan hidup bersih, serta taat pada atauran yang berlaku. Maka budaya ramah lingkungan pun akan terwujud serta akan terhindar dari bencana alam.

Ketiga Kesadaran spiritual, kesadaran yang ketiga ini merupakan kesadaran beragama. Karena, ketika seseorang beriman kepada tuhnya maka keimanannya pun harus ditafsirkan dengan cara memelihara alam dan lingkungan sekitarnya. Selain itu juga, kesadaran spiritual akan menciptakan lingkungan yang diharapkan oleh orang banyak. Maka dari itu kesadaran spiritual ini harus tertanam pada batin kita sehingga keberadaan kita di muka bumi ini bisa memotivasi seseorang, masyarakat, bangsa, dan negara agar sadarnya memelihara lingkungan dari bencana.

Jelasnya berwawasan lingkungan yang baik harus melekat pada jiwa kita, tentunya semua itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Jadilah contoh yang terkecil dariprilaku kita yang sederhana, bukan malah memberikan contoh pada orang lain. Mudah-mudahan apa yang kita lakukan bisa mengurangi terjadinya bencana alam serta menjadi amal baik bagi generasi yang akan datang sebagai penikmat dan pelestari lingkungan.

Sumber : Kompasiana

About Prista Ayu
Mahasiswa yang baru belajar nGeblog, Ngeblog untuk sekedar sharing ilmu, pengalaman, dokumentasi hidup, dan mencari teman. Boleh hanya numpang lewat tapi kalau mau komentar akan saya beri ucapkan terima kasih plus backlink gratis karena Blog ini sudah Dofollow -:). Boleh ngasih saran, kritik, caci maki tapi kalau nyepam tak masukin penjara Akismet he he he he ….

3 Responses to Bebaskan Alam dari Bencana

  1. AJAYAKUMAR says:

    HAPPY NEW YEAR

  2. dinda says:

    wah.. begitukah keadaan yang sesungguhnya… sangat memprihatinkan ???
    makasih atas postingannya.. aku sangat menikmati artikelnya???

  3. dinda says:

    wah begitukah keadaan yang sesungguhnya… sangat memprihatinkan banget yah???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: