“Eco Product”, Tuntutan Zaman bagi UMKM


Di tengah keterbatasan, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dituntut menghasilkan produk ramah lingkungan. Agar adil, mereka perlu dukungan. Dengan tujuan, agar ide kreatif ramah lingkungan tidak mati. Sebagai sebuah usaha, UMKM merupakan model ekonomi yang strategis dan kreatif dari rakyat. Dari UMKM banyak dilakukan terobosan kreatif dalam rangka daya saing. Ekonomi berbasis rakyat kecil UMKM kini mengalami banyak kemajuan, baik dari segi jumlah maupun aset. Kini jumlahnya telah mencapai 52,77 juta atau 99 persen dari total pengusaha di Indonesia.

UMKM yang memiliki daya tahan terhadap krisis ekonomi menyumbang 53 persen dari total product domestic brutto (PDB) Indonesia 2009. Tidak heran saat Indonesia dihantam krisis, sektor usaha ini tidak mengalami banyak gangguan. Kreativitas yang tinggi membuat produknya telah berorientasi ekspor, dengan aneka produk unggulan masing- masing, seperti mebel, cendera mata, perhiasan, aksesori, tekstil, kulit, dan produk olahannya seperti gelas, kaca, logam, serta kerajinan lainnya.

Namun, sayangnya, belakangan beberapa produk UMKM Indonesia sering ditolak pasar luar negeri lantaran tidak memenuhi standar mereka. Isunya mulai dari kualitas produk, melibatkan pekerja anak, isu gender, isu lingkungan, dan lainnya. Neddy Rafi naldy Halim, Deputi Menteri Koperasi dan UKM Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha, khusus isu lingkungan AS mensyaratkan 12 standar. Poin-poin dari standar itu, antara lain tidak ada zat pengawet, tidak mengandung toksin, tidak mengandung formalin, menggunakan pewarna standar, kayu dari hutan produksi, limbah tidak mengganggu ekosistem, kemasan berbahan dasar alami, dan lainnya.

“Saya tidak tahu ini bagian dari barrier atau tidak,” katanya. Ia mengatakan hambatan-hambatan tersebut harus disikapi dengan positif karena memang telah menjadi tuntutan konsumen negara maju. Baginya sudah sepantasnya para usahawan memenuhi standar negara tujuan ekspor asalkan tidak mengada-ada. Sekarang, tuntutan produk yang ramah lingkungan (eco product) merupakan tuntutan pasar global.

Masyarakat negara maju yang sangat peduli terhadap kelestarian lingkungan mensyaratkan produk yang dikonsumsi harus memenuhi syarat syarat-syarat ramah lingkungan di samping memang ada upaya melindungi produk dalam negeri. Tuntutan eco product lambat laun juga akan menjadi tuntutan pasar dalam negeri. Mereka akan lebih memilih produk yang ramah lingkungan meski relatif lebih mahal. Selain karena komitmen pada lingkungan mengonsumsi produk ramah lingkungan merupakan gengsi tersendiri.

Untuk mendorong terciptanya lebih banyak produk ramah lingkungan, Kementerian Koperasi dan UMKM saat ini tengah mendorong agar UMKM menerapkan konsep eco green dalam membuat eco product. Product ramah lingkungan (eco product) harus memiliki beberapa persyaratan dalam proses produksinya, seperti penggunaan material berbasis daur ulang, penghematan bahan bakar, hingga diversifi kasi energi.

Sedangkan produk eco product harus memiliki ciri tidak merusak lingkungan, penggunaan teknologi daur ulang, penghematan energi, tidak menggunakan bahan kimia, dan bahan baku tidak merusak lingkungan, misalnya saja batik dengan pewarna alami, sayuran organik, dan mebel dari kayu tanaman produksi. Langkah yang dilakukan untuk mendorong pemerintah, ujar Neddy, adalah dengan memberikan pinjaman dana bagi yang telah mempraktikkan usaha ramah lingkungan.

Di Bali, misalnya, beberapa UMKM mebel telah membentuk koperasi bahan baku yang bersumber dari bahan ramah lingkungan. Di Yogyakarta telah dilakukan pelatihan pengembangan eco product dengan beberapa pelatihan dan pendampingan kepada pengusaha furnitur berorintasi ekspor. Harus Berdaya Menurut Ade Swargo Mulya, Project Manager Swisscontact, untuk dapat menciptakan eco product UMKM harus berdaya terlebih dulu.

Sekarang ini usaha ini masih banyak terkendala SDM yang lemah permodalan, produksi, pemasaran, dan jejaring kerja. Pemberdayaan kepada UMKM dilakukan dengan penyesuaian dengan kondisi spesifik usaha dan kawasan. “UMKM merupakan lokomotif ekonomi Indonesia,” katanya. Rusman Hakim, pengamat UMKM, mengatakan agar mampu berdaya dan menghasilkan produk yang ramah lingkungan, UMKM perlu diberikan perlindungan berupa pelatihan, pendampingan, kampanye, dan juga subsidi.

Namun demikian, jumlah UMKM yang begitu banyak tidak mungkin dilakukan pendampingan satu per satu, sehingga perlu kampanye besar- besaran agar UMKM melahirkan produk ramah lingkungan. Sedangkan Berry Nahdian Furnqan, Direktur Eksekutif Walhi, mengatakan pemerintah harus melindungi UMKM ramah lingkungan dari segi ekonomi dan politik.

Pasalnya, bagaimanapun produk ramah lingkungan akan lebih mahal ketimbang yang tidak sehingga perlindungan mutlak diberikan. Pemerintah juga harus membantu transfer teknologi yang sudah banyak diciptakan oleh para peneliti. “Negara harus memfasilitasi transfer teknologi,” katanya

Sumber : Koran Jakarta

About Prista Ayu
Mahasiswa yang baru belajar nGeblog, Ngeblog untuk sekedar sharing ilmu, pengalaman, dokumentasi hidup, dan mencari teman. Boleh hanya numpang lewat tapi kalau mau komentar akan saya beri ucapkan terima kasih plus backlink gratis karena Blog ini sudah Dofollow -:). Boleh ngasih saran, kritik, caci maki tapi kalau nyepam tak masukin penjara Akismet he he he he ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: